Kuliah Pakar di STIKes Tri Mandiri Sakti Soroti Transformasi Digital dan Pengendalian Resistensi Antimikroba

06-02-2026 Umum Dilihat 183 kali

Bengkulu, Kamis 05 Februari 2026 – STIKes Tri Mandiri Sakti kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penyelenggaraan kuliah pakar bertajuk “Digital Transformation in Public Health: Sinergi Artificial Intelligence dan Pengendalian Resistensi Antimikroba”. Kegiatan ini diikuti oleh 50 mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat serta menghadirkan narasumber dari unsur pemerintah dan akademisi.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat STIKes Tri Mandiri Sakti, Rina Aprianti, SKM, MPh. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa perkembangan teknologi digital telah menjadi bagian penting dalam sistem kesehatan modern. Menurutnya, pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, menjadi langkah strategis dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan global, khususnya meningkatnya kasus resistensi antimikroba. Ia juga menegaskan bahwa penguatan sistem kesehatan membutuhkan kolaborasi erat antara perguruan tinggi, pemerintah, serta praktisi kesehatan.

Pada sesi utama, narasumber pertama, Yunika Sary, S.Farm., M.Si., Apt, Ketua Tim Sertifikasi BPOM di Bengkulu, memaparkan materi mengenai pengendalian resistensi antimikroba melalui pengawasan pengelolaan obat. Dalam penyampaiannya, beliau menjelaskan bahwa resistensi antimikroba saat ini menjadi salah satu ancaman serius bagi kesehatan dunia karena dapat meningkatkan angka kesakitan, kematian, serta beban ekonomi kesehatan. Berdasarkan data global, resistensi antimikroba telah menyebabkan lebih dari 1,27 juta kematian pada tahun 2019 dan berpotensi terus meningkat apabila tidak dikendalikan secara terpadu.

Lebih lanjut, Yunika menjelaskan bahwa resistensi antimikroba dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti penggunaan antibiotik yang tidak sesuai aturan, konsumsi antibiotik tanpa resep tenaga kesehatan, peredaran antibiotik substandar maupun palsu, serta penggunaan antibiotik pada sektor peternakan yang tidak rasional. Ia menekankan pentingnya pendekatan One Health, yaitu kerja sama lintas sektor yang melibatkan kesehatan manusia, kesehatan hewan, lingkungan, serta keamanan pangan sebagai upaya pengendalian resistensi secara komprehensif.

Dalam pemaparannya, Yunika juga menjelaskan kebijakan nasional terkait pengendalian resistensi antimikroba melalui Rencana Aksi Nasional serta peran strategis Badan POM dalam melakukan pengawasan mulai dari proses registrasi, distribusi, hingga penggunaan antibiotik secara rasional. Penguatan pengawasan tersebut dilakukan melalui berbagai strategi, termasuk patroli siber, pengawasan terpadu lintas sektor, serta edukasi kepada masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan antibiotik.

Narasumber kedua, Muhamad Anggi Pratama, S.Sos., M.A.P dari Universitas Bengkulu, menyampaikan materi mengenai transformasi tata kelola pemerintahan digital di bidang kesehatan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa penerapan teknologi informasi dan kecerdasan buatan dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan data kesehatan, mempercepat pengambilan keputusan, serta memperkuat sistem surveilans kesehatan masyarakat.

Selanjutnya, narasumber ketiga, Yoan Berliana Siregar, M.A.P, juga dari Universitas Bengkulu, membahas pentingnya kebijakan publik yang adaptif dalam menghadapi resistensi antimikroba. Ia menekankan bahwa integrasi teknologi digital, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan, dapat membantu menganalisis pola resistensi, meningkatkan efektivitas pemantauan penggunaan antibiotik, serta mendukung penyusunan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah.

Kuliah pakar berlangsung secara interaktif dan mendapat respons positif dari para mahasiswa. Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya diskusi dan pertanyaan yang diajukan, khususnya terkait peluang penerapan teknologi digital dalam praktik kesehatan masyarakat serta peran tenaga kesehatan dalam pengendalian resistensi antimikroba.

Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dapat memperluas wawasan mengenai pentingnya transformasi digital dalam sistem kesehatan serta memahami peran kolaboratif lintas sektor dalam mengendalikan resistensi antimikroba. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mempersiapkan generasi tenaga kesehatan yang adaptif, inovatif, dan responsif terhadap perkembangan teknologi dalam pelayanan kesehatan masyarakat.

Sarana